FUI Kembali Datangi Komnas HAM Untuk Tolak Rekayasa Terorisme

JAKARTA - Tak kenal lelah itu mungkin sebuah kalimat yang berada di benak para delegasi Forum Umat Islam (FUI) dalam memperjuangkan pembelaan mereka terhadap umat Islam. Dalam waktu kurang dari satu bulan ini saja FUI telah mendatangi beberapa instansi pemerintah. Jum’at 11 Juni 2010 yang lalu masa dari FUI mengadakan aksi demonstrasi di depan gedung Mabes Polri dan sekaligus delegasi FUI menemui Wakadiv Humas Zainuri Lubis untuk menyampaikan surat terbuka kepada Kapolri Jendral Pol. Bambang Hendarso Danuri. Kemudian Kamis 17 Juni 2010 FUI kembali mendatangi Komisi III DPR/MPR RI, dan dua hari berturut-turut yakni  Selasa 22 Juni 2010 delegasi FUI mendatangi Komnas HAM dan Rabu 23 Juni 2010 FUI kembali diterima KOMPOLNAS.

Semua itu dilakukan oleh FUI demi menyuarakan apa yang disebut dengan “menolak rekayasa terorisme.”

Dalam dua pertemuan di dua tempat yang berbeda yakni di Komnas HAM dan KOMPOLNAS, delegasi FUI yang dipimpin KH. Muhammad Al-Khaththath menguraikan berbagai hal penting diantaranya adalah berbagai macam indikasi rekayasa terorisme yang telah nyata mulai sejak bom Bali I. Menurut kesaksiannya seminggu sebelum meledaknya bom Bali telah ada briefing yang menyebut-nyebut adanya jaringan teroris di Indonesia dengan tokoh-tokoh Ust. Abu Bakar Ba’asyir, Hambali dan Imam Samudra. Briefing ini dilakukan di Mabes Polri oleh Kapolri Da’i Bachtiar dan Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono pada waktu itu kepada tokoh ormas Islam dan pemuda. Baca tulisan ini lebih lanjut

FUI : Ungkap Satgas Liar Dibalik Rekayasa Terorisme

JAKARTA – Sedianya acara pertemuan antara FUI (Forum Umat Islam) dengan Komisi III DPR RI yang membidangi hukum dan hak asasi manusia dilangsungkan pada pagi hari ini yakni Kamis, 17 Juni 2010 pukul 10.00 WIB, namun karena adanya rapat paripurna maka pertemuan FUI dengan anggota DPR RI Komisi III dilangsungkan tengah hari sekitar pukul 12.00.

Para perwakilan dari FUI terdiri dari Sekjen FUI KH. Muhammad Al-Khatthath, Munarman, Ahmad Michdan, Ahmad Sumargono ,KH. Misbahul Anam, Ust. Abu Jibril, KH. Fathul ‘Azhim, dan beberapa perwakilan tokoh ormas lainnya diterima Komisi III DPR RI.

Anggota Komisi III yang hadir diantaranya adalah; Fahri Hamzah sebagai pimpinan rapat, Firman Jaya, Ahmad Yani, Nudirman Munir, Ruhut Sitompul, dan yang lainnya.

Dalam rapat tersebut FUI (Forum Umat Islam) menyampaikan adanya rekayasa pemberantasan terorisme yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Hal ini terlihat dengan adanya keterlibatan salah seorang oknum polisi (konon seorang desertir) yang bernama Sofyan Sauri yang telah menjadi penghubung peristiwa Aceh, Pamulang, Pejaten dan Solo. Peristiwa ini persis seperti peristiwa KOMJI (Komando Jihad) yang direkayasa aparat keamanan pada dekade 1970-an.

Dalam surat terbuka yang dilayangkan kepada angggota Komisi III DPR RI FUI menyampaikan beberapa himbauan diantaranya:

1. Menolak dan menghentikan setiap upaya rekayasa terorisme yang mengorbankan anak bangsa sendiri, terlebih seorang ulama seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir
2. Mengontrol KAPOLRI agar tetap pada tracknya sebagai aparat keamanan yang digaji oleh rakyat, bukan bekerja untuk segelintir elit penguasa yang tunduk pada program war on terrorism yang dikendalikan AS.
3. Berkaitan dengan penahanan, penyiksaan para aktivis JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) dan penyegelan kantor sekretariat JAT yang merupakan salah satu anggota FUI (Forum Umat Islam) menyerukan kepada anggota komisi III untuk memanggil Kapolri dan memintanya untuk menghentikan aksi tersebut dan merehabilitasi para aktivis Islam yang direkayasa sebagai teroris sehingga mereka bisa berkativitas seperti biasa.

Munarman yang juga anggota TPM (Tim Pengacara Muslim) memberikan pemaparan berbagai keganjilan dalam operasi pemberantasan terorisme kepada anggota Komisi III. Ia mengatakan:

“Adanya posko-posko yang dibentuk oleh tim BUSER atau Satgas anti Bom –bukan Densus- dimana posko ini tidak berada di lingkungan markas kepolisian RI baik itu Mabes Polri, di Polda maupun di Polsek. Posko ini bukan hanya untuk penanganan kasus terorisme, namun posko ini juga digunakan untuk penanganan tindak pidana lainnya, contohnya; dalam tindak pidana Curas (Pencurian dengan Kekerasan) orang-orang yang ditangkap itu biasanya terlebih dahulu tidak langsung di bawa ke kantor polisi tetapi disimpan dahulu di suatu tempat, dan ini adalah hasil wawancara langsung dengan narapidana-narapidana. Jadi ditangkap, dipukuli, digebugi dulu baru kemudian dibawa ke penyidik di markas kepolisian. Baca tulisan ini lebih lanjut

Mendidik Anak Menjadi Mujahid Islam yang Tangguh

KETIKA berita tentang tentara Salibis yang telah bersiap untuk meluluhlantakkan Islam sampai kepadanya, Abu Qudamah ASy-Syami bergerak cepat menuju mimbar masjid. Dalam pidato yang emosional dan bertenaga, Abu Qudamah membakar semangat masyarakat muslim untuk mempertahankan tanah air mereka, dengan jihad fi sabilillah. Tak lama setelah dia meninggalkan masjid, menuruni lorong sempit dan gelap, tiba-tiba seorang wanita menghentikan langkahnya dan berkata, “Assalamu’alaikum wa rahmatullah!” Abu Qudamah berhenti, dan tidak menjawabnya.

Wanita itu mengulangi lagi salamnya, seraya menambahkan, “Hal demikian bukanlah tindakan yang seharusnya dilakukan orang shalih.” Lalu wanita itu berjalan selangkah mendekati bayangan Abu Qudamah. “Aku mendengar engkau di masjid memotivasi orang-orang beriman untuk pergi berjihad, dan yang aku punya hanyalah ini,” tuturnya seraya menyeragkan dua buah kuncir yang dipotong dari rambutnya. Wanita itu meneruskan, “Ini bisa digunakan sebagai tali kendali kuda. Semoga Allah menetapkan diri sebagai salah seorang yang pergi berjihad. Baca tulisan ini lebih lanjut

Ustadz Abu Dilarang Berdakwah

Jaman wes akhir, demikian kata orang Jawa. Yang benar disalahkan yang salah dibenarkan. Yang kecil dibesarkan, yang besar disepelekan.  Semua serba terbalik. Dakwah dilarang, kemaksiyatan bergentayangan.

Di negeri ini kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dijamin oleh Undang-undang. Pun demikian dengan kebebasan beragama dan beribadah juga dijamin oleh negara. Pelajaran ini telah ditanamkan kepada anak-anak sejak tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga bangku kuliah. Bahkan dalam soal-soal ujian Pendidikan Kewarganegaraan hampir pasti selalu keluar.

Rupanya, doktrin itu hanyalah sekedar pasal-pasal manis penghias lembaran konstitusi. Praktiknya tidak seindah yang dibayangkan. Jauh panggang dari api, kata pepatah.

Adalah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) yang saat ini direnggut kebebasannya untuk berdakwah. Melalui surat bernomor 031/MUI-Kota.Sg/VI/2010, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang Provinsi Banten resmi ‘mencekal’ Ustadz Abu untuk berdakwah di wilayah hukum Kota Serang, Banten. Surat tertanggal 1 Juni 2010 itu ditandatangani oleh Ketua umum MUI Kota Serang KH. Mahmudi dan sekretaris umum H. Amas Tadjuddin.

Dalam surat dua lembar yang dilayangkan kepada Pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo itu disebutkan bahwa MUI Kota Serang meminta kepada Ustadz Abu untuk sementara waktu terhitung sejak bulan Juni 2010 agar tidak datang dan tidak melakukan kegiatan di wilayah hukum Kota Serang, Banten hingga waktu tak terbatas. Baca tulisan ini lebih lanjut

Unjuk Rasa di Depan Mabes, Kecam Kerja Densus 88 Antiteror Polri

JAKARTA - Depan Markas Besar (Mabes) Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (11/06/10) siang dipenuhi massa. Ratusan orang yang terdiri dari beberapa elemen Islam menggelar unjuk rasa di depan Markas Besar Kepolisian.

Mereka terdiri dari elemen Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT), Forum Umat Islam (FUI), Front Pembela Islam (FPI), dan Gerakan Reformis Islam (GARIS). Mereka menyuarakan tuntutan Bubarkan Densus dan rehabilitasi nama ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Aksi ini dilakukan setelah beberapa waktu yang lalu, Densus 88-Anti Terorisme (D88-AT) menggerebek sekretariat JAT Jakarta di Pasar Minggu. Dalam penggerebekan itu ditangkap beberapa aktivis JAT, termasuk ketua JAT Jakarta ustadz Haris Amir Falah. Mereka dituduh terlibat jaringan teroris Aceh. Polri juga sempat menutup sekretariat itu.

Aksi dilakukan dengan longmarch. Setelah sholat Jum’at mereka berkumpul di Masjid Agung Al Azhar. Pukul 13.00 WIB, mereka mulai berjalan menuju Mabes Polri. Dengan membentangkan spanduk dan mengucapkan yel-yel “Bubarkan Densus”.Massa membentangkan spanduk dan poster di depan Mabes Polri. Tulisan-tulisan yang dibentangkan antara lain ‘Bubarkan Densus’, ‘Tolak Rekayasa Terorisme’, dan ‘Polri Jangan Jadi Agen AS’.

Para perwakilan dari beberapa elemen bergantian untuk berorasi. Antara lain Ustadz Hasyim Yahya, Munarman dan Muhammad Khottot. Dalam orasinya, mereka menuntut agar aktivis JAT yang ditangkap beberapa waktu lalu dibebaskan. Mereka menilai anggota JAT yang ditangkap itu bukanlah anggota teroris. Ada beberapa tuntutan yang mereka tekankan. Antara lain, Rehabilitasi nama ustadz Abu Bakar Ba’asyir, buka kembali markaz JAT yang disegel polisi, dan bubarkan Densus 88-Anti Terorisme (D88-AT).

Mereka menganggap cara penangkapan, penembakan dan penahanan orang-orang yang masih diduga teroris tidak prosedural dan melanggar Hak Azasi Manusia (HAM). Terbukti dari 2 jenazah (baru saja dimakamkan) yang selama sebulan terkatung-katung di Rumah Sakit tidak diketahui identitasnya. Tuduhan atau perbuatan apa yang bisa dilekatkan pada mereka kalau mereka adalah teroris.
Baca tulisan ini lebih lanjut

AS Desak NATO Tidak Memotong Anggaran Militer


Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates memperingatkan Inggris dan sekutu-sekutu NATO lainnya pada Selasa (8/6) melawan pengurangan pasukan di Afghanistan karena anggaran yang semakin melemah, juga mendesak negara-negara itu untuk mencoba menemukan penghematan biaya terlebih dahulu dari sektor yang lain.

“Jelas sebagian besar negara menghadapi tekanan ekonomi sekarang,” kata Gates kepad para wartawan ketika ditanya tentang adanya laporan bahwa Inggris, Jerman, dan anggota aliansi NATO lainnya telah mempertimbangkan pemotongan pertahanan terbesar sejak akhir Perang Dingin.

“Saya berharap bahwa sekutu kami, sebelum mereka mempertimbangkan pengurangan struktur kekuatan dan pengurangan lebih luas, akan melihat secara keseluruhan bagaimana mereka menghabiskan uang mereka,” kata Gates pada konferensi pers bersama dengan Menteri Pertahanan Inggris, Liam Fox di London. Baca tulisan ini lebih lanjut

Perwira Mesum! Dulu Menangkap Susno, Kini Tertangkap Basah Selingkuh

JAKARTA – Gara-gara selingkuh, seorang perwira Polri yang mengangkap Susno Duadji harus diasingkan dan dimutasi. Yang lebih memalukan, perselingkuhan itu tertangkap basah oleh istrinya sendiri.

Masih ingat kasus penangkapan mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol Susno Duadji saat hendak pergi ke Singapura? Kala itu Susno ditangkap oleh empat petugas provost divisi Profesi dan Pengamanan Polri.

Nah, satu di antara anggota Provost yang menangkap Susno itu dikabarkan tertangkap tangah berselingkuh. Kombes PR, identitas anggota provost itu dipergoki sendiri oleh sang istri.

“Dia ketahuan selingkuh oleh istrinya sendiri. Tertangkap basah sedang beradegan mesra dengan selingkuhannya di sebuah wisma yang disewanya di Bali,” ujar sebuah sumber, Selasa (8/6/2010).

PR, memang terakhir berdinas di Bali. Dia dipromosikan menjadi Kapoltabes Denpasar tersebut tak berapa lama setelah peristiwa penangkapan Susno terjadi. Uniknya, perwira menengah yang diketahui sering bertikai dengan media kala bertugas di Mabes Polri itu baru ditempatkan dinas di sana.

“Dia kan dilantik tanggal 1 Juni, kemudian tanggal 3 Juni kejadian, tanggal 4 nya dicopot dari jabatannya,” lanjut sumber tersebut.

PR yang lulusan akademi kepolisian (Akpol) tahun 1985 itu dicopot setelah sebelumnya sang istri melaporkan tindakan asusila suaminya itu kepada Kapolda Bali, Irjen Sutisna. PR pun langsung disidang di tempat dan dimutasi.

Kombes PR pun menjadi Kapoltabes pertama yang menjabat dalam waktu singkat yaitu empat hari. “Sekarang dia dalam perawatan (pengasingan) di satuan Detasemen Markas (Denma) Mabes Polri. Dimutasi ke sana,” tutup sumber.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Edward Aritonang membenarkan jika Kombes PR dimutasi dari jabatannya berdasarkan Telegram Rahasia Kapolri tertanggal 4 Juni. “Ya betul dia dimutasi,” katanya.

Saat ditanya apa betul PR dimutasi karena tertangkap tangan berselingkuh yang merupakan pelanggaran profesi, Edward mengaku tak mengetahuinya. “Saya belum tahu itu. (yang jelas) dimutasi ya,” tutupnya. [taz/tribun](voa-islam.com)

Isyarat Syahid Jenazah Korban Penembakan Densus 88 di Cawang

JAKARTA Akhirnya, dua jenazah tak dikenal yang ditembak Densus 88 di Cawang, Jakarta Timur dimakamkan kemarin Selasa (8/5/2010). Tanpa ada pihak yang tahu siapa keluarga kedua jenazah tersebut. Termasuk polisi yang menembak mati keduanya dengan tuduhan teroris.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Edward Aritonang mengatakan, tim medis dan penyidik Polri memakamkan dua jasad tersangka terorisme yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

“Sudah hampir sebulan belum ada pihak keluarga yang datang mengenali sehingga penyidik dan tim medis memakamkan kedua jasad hari ini,” katanya di Jakarta, Selasa (8/5/2010).

Pukul 09.00 WIB wartawan voa-islam tiba di TPU Pondok Ranggon Jakarta Timur, tapi tak nampak tanda-tanda akan ada pemakaman jenazah. Para penjaga makam tak tahu kalau hari itu akan diadakan pemakaman kedua jenazah tak dikenal. Ketika ditanya tentang rencana pemakaman dua jenazah tak dikenal, Pandi, salah seorang pengurus makam menjelaskan bahwa hari itu tak ada agenda pemakaman. “Tidak ada jadwal pemakaman kedua jenazah tersebut hari ini,” jawabnya.

Namun tak seberapa lama telepon di kantor TPU Pondok Ranggon berdering, kemudian ia memanggil dan mengatakan, barusan ada telepon dari kepolisian bahwa pada hari ini akan ada pemakaman. Maka penggalian lahat pun dilakukan di blok AB, bersebelahan dengan makam Syaifudin Zuhri dan Muhammad Syahrir yang  berjarak sekitar 15 Meter dari makam Ibrahim yang ditembak mati Densus di Temanggung, Jawa Tengah. Baca tulisan ini lebih lanjut

Pengajian Ustadz Abu Mulai Dilarang, Persis Seperti Zaman Orde Baru

JAKARTA – Perlakuan aparat keamanan terhadap kegiatan dakwah Ustadz Abu Bakar Ba’syir dirasakan begitu berlebihan persis seperti di zaman orde baru. Pasalnya sering kali dalam setiap acara kajian, seperti Tabligh Akbar misalnya selalu dihalang-halangi. Seperti  harus meminta izin terlebih dahulu kepada aparat keamanan, padahal tidak ada aturan hukum di negeri ini yang mengharuskannya. Dan Kiyai, Ustadz maupun para Da’i yang lain juga tidak pernah diberlakukan prosedur demikian. Kemudian yang lebih zhalim adalah adanya tekanan dari aparat keamanan kepada panita atau pengurus masjid tempat diselenggarakannya acara kajian Ustadz Abu Bakar Ba’asyir untuk membatalkan acara sebagaimana yang terjadi di Masjid Jami’ Al-Muhajirun daerah Citeureup Jawa Barat berikut ini.

KRONOLOGIS

Acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan pada  hari Ahad 6 Juni 2010 dengan pembicara Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Masjid Jami’ Al-Muhajirun yang beralamat di Perum Bina Marga Cagak Gunung Putri Citereup Jawa Barat, sedianya telah dipersiapkan oleh panitia sejak lebih dari 1 bulan bulan yang lalu.

Satu hari menjelang hari H (hari Sabtu, 5 Juni 2010) panitia menyampaikan surat pemberitahuan kepada Kapolsek Gunung Putri yang diterima Bapak Gunawan S.P selaku staf di Polsek Gunung Putri Bogor. Waktu itu setelah panitia menyampaikan pemberitahuan itu diterima dengan baik. Kemudian beliau menyatakan untuk silahkan dilanjutkan kegiatan tabligh akbar tersebut dan tidak ada masalah. Panitia pun selanjutnya memberitahukan kepada DKM Masjid Al-Muhajirun tentang kesiapan penyelenggaraan Tabligh Akbar.

Namun tak lama berselang pada hari tersebut panitia diberitahu pihak DKM lewat telepon bahwa dari pihak kepolisian (Polsek Gunung Putri) menyampaikan pertimbangan-pertimbangan yang intinya menekan pihak DKM agar membatalkan acara Tabligh Akbar tersebut.

Adapun alasan atau pertimbangan-pertimbangan yang disampaikan dari pihak Polsek kepada DKM Masjid Al-Muhajirun yang disampaikan kepada pihak Panitia Tabligh Akbar diantaranya adalah dari sisi keamanan karena wilayah Gunung Putri termasuk Ring 1 dari tempat tinggal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun konfirmasi tentang alasan tersebut tidak bisa didapatkan lantaran tidak satu pun pengurus DKM Masjid Al-Muhajirun yang hadir dalam acara Tabligh Akbar tersebut. Baca tulisan ini lebih lanjut

Bulan Sabit Merah Iran Akan Kirim 2 Kapal Bantuan ke Gaza

Bulan Sabit Merah Iran telah memutuskan untuk mengirimkan dua kapal bantuan ke Gaza pekan ini dalam sebuah tawaran terbaru untuk mematahkan blokade yang dikenakan terhadap wilayah Gaza Palestina.

Direktur Bulan Sabit Merah untuk urusan internasional Abdul Rauf Adibzadeh mengatakan kepada kantor berita negara IRNA pada Minggu malam bahwa keputusan untuk mengirim kapal-kapal itu diambil setelah pertemuan dengan kementerian luar negeri.

“Satu kapal akan membawa sumbangan dan kapal yang lain akan membawa pekerja bantuan. Kapal-kapal akan dikirim ke Gaza pada akhir minggu ini,” kata Adibzadeh.

Dia mengatakan Bulan Sabit Merah menyerukan relawan Iran untuk bertindak sebagai pekerja bantuan dan mendampingi kapal.

“Relawan yang ingin pergi ke Gaza dan membantu rakyat tertindas di Palestina yang diduduki bisa merujuk ke situs web Bulan Sabit Merah untuk mendaftar,” kata Adibzadeh. Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.