Puluhan Ulama Saudi Serukan Jihad Lawan Israel

Sekitar 70 orang aktivis dan ulama Islam Arab Saudi, mendesak dunia internasional untuk memecahkan blokade dan embargo Yahudi terhadap umat Islam di jalur Gaza dan mengutuk pembantaian yang dilakukan oleh militer Israel terhadap aktivis pro-Palestina dalam rombongan armada kebebasan yang menuju ke Gaza untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan.

Mereka juga menuntut dan menyerukan adanya Jihad Islam untuk mengusir zionis Israel dari tanah kaum muslimin.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis pagi ini (3/6) ke 70 aktivis dan ulama Islam Saudi tersebut menyatakan bahwa apa yang terjadi di kapal Mavi Marmara merupakan sebuah kejahatan, ketidakadilan dan pengkhianatan, karena para aktivis kemanusiaan datang dengan cara damai dan membawa makanan dan obat-obatan serta melakukan gerakan perdamaian dalam sebuah perjanjian internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Baca tulisan ini lebih lanjut

Lagi, Helikopter NATO Terjatuh di Afghanistan

Helikopter NATO lainnya kembali jatuh di utara Afghanistan, klaim militer NATO mengatakan bahwa helikopter naas tersebut mengalami kerusakan mesin dan harus mendarat darurat, Rabu (2/6).

Pejabat NATO di Afghanistan mengatakan satu helikopternya terjatuh di wilayah utara Afghanistan.

Helikopter tersebut mendarat di provinsi Baghlan.  Pejabat NATO tersebut mengklaim helikopternya terjatuh akibat kerusakan mesin, setelah mendarat mujahidin Imarah Islam Afghanistan merusaknya.

Ia juga mengklaim tidak ada tentara yang tewas dalam insiden ini. Namun jurubicara Imarah Islam Afghanistan mengumumkan bahwa helikopter tersebut mendapat serangan dari Mujahidin dan mujahidin berhasil menjatuhkannya.  Seluruh awak yang berada di dalamnya tewas di tempat.  Dalam satu minggu tiga helikopter NATO berhasil ditembak jatuh oleh Mujahidin.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Perang Caci Maki di Parlemen Israel

Aksi penyerangan Israel terhadap kapal pengangkut bantuan kemanusiaan Mavi Marmara pada Senin (31/5) lalu tak hanya menuai gelombang protes besar dari dunia internasional, tetapi juga dari dalam negerinya sendiri, bahkan sempat mengakibatkan perang urat syaraf dan caci maki di dalam Knesset (Parlemen) Israel.

Dalam sidang Parlemen Israel yang digelar siang hari Rabu (2/6) kemarin, seorang anggota parlemen dari Partai Likud, Merry Regev, menyampaikan kritik dan kekesalannya kepada seorang anggota parlemen lainnya dari Partai Persatuan Demokrasi Hanin El-Zoghby yang mendukung dan ikut serta aksi kemanusiaan pembebasan blokade Gaza.

Dengan suara lantang dan berapi-api, Regev mengatakan kepada El-Zoghby bahwa El-Zoghby telah bergabung dengan kelompok teroris, dan tindakan tersebut adalah cacat moral bagi Israel.

El-Zoghby adalah anggota parlemen Israel dari unsur Arab yang maju lewat partai Persatuan Demokrasi.

“Anda telah mengkhianati Israel,” kata Regev kepada El-Zoghby. Baca tulisan ini lebih lanjut

“Apa yang Diambil dengan Paksa, Harus Direbut Kembali dengan Paksa”

Peristiwa serangan pasukan komando Zionis Israel ke rombongan kapal “Freedom Flotilla” seharusnya sudah cukup menjadi bukti bahwa Israel bukan pihak yang memahami bahasa “diplomasi”, tapi hanya mengerti bahasa “kekerasan”.

Oleh sebab itu, dalam upaya membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis Israel, upaya diplomasi sebenarnya tidak lagi efektif dan tidak ada alternatif lain untuk melawan rezim Zionis Israel, selain dengan perlawanan, baik bersenjata maupun tidak bersenjata.

Hal tersebut ditegaskan oleh DR Fathi Abdel Kader dari Al-Quds Foundation menjawab pertanyaan Eramuslim, saat memberikan pemaparannya bertajuk “Proyek-Proyek Zionisme” dalam acara “Al-Aqsa and Palestine, Problematic and Future Perspective” di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Rabu (2/6).

Menurutnya, cara diplomasi tidak bisa diandalkan untuk mengakhiri penjajahan Israel di Palestina. “Apa yang diambil dengan paksa oleh Israel (wilayah Palestina) harus direbut kembali dengan paksa, dan caranya bukan dengan jalur diplomasi, tapi perlawanan, jihad,” tukas DR. Abdel Kader yang asal Yaman itu.
Baca tulisan ini lebih lanjut

“AS Pelaku Utama Serangan Freedom Flotilla”

Pernyataan Amerika Serikat mengenai serangan Israel terhadap Freedom Flotilla sangatlah munafik dan Amerika Serikat merupakan pelaku utama di balik penyerangan tersebut, seorang akademisi AS mengatakan.

Ralph Schoenman, penulis The Hidden History of Zionism, mengatakan bahwa meskipun terdapat seluruh dunia memprotes tindakan biadab Israel terhadap armada yang mengangkut bantuan untuk Gaza, negara Zionis itu tidak mungkin bisa diseret pengadilan.

Israel diperkuat dan ditopang terus-menerus oleh Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, sehingga negara tersebut tak pernah merasa takut untuk terus mengancam dan mempertahankan blokade ketat atas Gaza dan dengan demikian terus mengancam tetangga dan mempertahankan blokade Gaza.

Dia menyebutkan bahwa beberapa minggu lalu, Gedung Putih meminta Kongres untuk mengucurkan bantuan militer tambahan sebesar 205 juta dolar kepada Israel. Hal ini hanya satu dari sekian banyak bantuan yang diberikan AS untuk Israel.

Bantuan keuangan dimaksudkan untuk mendukung Iron Dome, sebuah perisai sistem roket yang diduga dirancang untuk mempertahankan Israel dari serangan roket dari Hamas dan Hizbullah, Schoenman menyatakan. Tapi sebetulnya Iron Dome ini dipersiapkan untuk membantai rakyat Lebanon dan Gaza, lanjutnya. Baca tulisan ini lebih lanjut

Penuturan Aktivis Armada Kebebasan Tentang Kebiadaban Israel

Apa yang digunakan oleh Israel ketika menyerang para aktivis di dalam kapal Armada Kebebasan? Menurut salah seorang aktivis yang dideportasi Israel ke Yordan, Komando Angkatan Laut Israel menggunakan tongkat pemukul, gas air mata, granat, peluru karet berlapis dan amunisi berbahaya selama penyerbuan kapal bantuan menuju Gaza tersebut. Hal ini dikatakan oleh Norazma Abdullah, aktivis asal Malaysia pada hari Rabu kemarin di Yordania.

“Israel menyerang kami tanpa peringatan setelah salat subuh,” kata Norazma. “Mereka awalnya menembak kami dengan peluru karet, tetapi beberapa saat kemudian, mereka menggunakan peluru tajam. Lima orang mati di tempat ketika itu juga dan setelah itu kami menyerah.”

Norazma Abdullah, berbicara dengan Reuters di dekat jembatan sungai Yordan, mengatakan pasukan Israel kemudian menahan para aktivis dengan posisi diikat badannya selama 15 jam sampai mereka tiba di pelabuhan Israel Asdod. Baca tulisan ini lebih lanjut

Erdogan: “Kami Dukung Kalian, Meski Kami Harus Sendirian”

Perdana Menteri Ismail Haniya telah melakukan kontak langsung dengan Perdana Menteri Turki Recep Thayyib Erdogan, untuk menyampaikan perasaan ikut berduka, atas nama pribadi, pemerintah, serta rakyat Palestina, sebagaimana dilansir Al Manar, Rabu(2/6).

Haniya menyampaikan bahwa rakyat Palestina memiliki solidaritas terhadap para syuhada’ dan para aktifis kafilah kemanusiaan, baik dari Turki maupun dari berbagai negara lainnya.

Membalas ucapan Haniya, Erdogan menyampaikan bahwa ia memiliki komitmen untuk mendukung Palestina, dan membuka blokade.
Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.