Amien Rais (Ahmadiyah Punya Hak Hidup)

Asle090880, menampilkan berita seputar Amien Rais Sosok Pejuang Reformasi yang kebingungan karena apa yang menjadi cinta-citanya tidakkesampaian, sehingga dia yang pernah memimpin ormas islam yang udah punya nama besar di negeri kita ini, berbalik arah menjadi orang yang mendukung liberalisasi dalam Islam……………..

Asle090880, minta komentar dari blogger semuanya…………., mungkin juga memberikan nasehat kepada sosok Amie Rais……………….

Ditulis Oleh : Ahmad Sumargono, S.E, M.M

Pernyataaan Amien Rais dalam wawancara dengan majalah Tempo 4 Mei 2008 bertajuk : Ahmadiyah Punya Hak Hidup untuk kesekian kalinya membuat saya terperangah. Dengan semangat membela Ahmadiyah Amien Rais berkata, “Saya mencium ada kelompok siluman yang melakukan semacam operasi intelejen untuk memeperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat.” Tuduhan itu bukan alang kepalang daya pressurenya, karena di ketahui bersama bahwa komponen umat Islam terbesar, atau Islam mainstream di negeri ini inilah yang justru berada di balik protes-protes keras pembubaran Ahmadiyah. Wabil khusus tentu saja MUI ( Majelis Ulama Indonesia) yang telah dua kali mengeluarkan fatwa tegas bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan.

Amien Rais menyetarakan protes-protes Ahmadiyah itu dengan konflik Islam-Kristen di Ambon . kata Amien Rais , “Sebelumnya tidak pernah ada konflik Islam-Kristen di sana, tiba-tiba muncul.” Amien Rais sama sekali tidak menyebutkan akar masalah inti konflik horizontal Islam-Kristen di Ambon itu, jelas-jelas terjadi karena di mulai pertamakali dengan peristiwa penyerangan pihak Kristen terhadap kelompok Islam. Umat Islam yang baru saja merayakan Idul Fitri tiba-tiba saja di serang, di serbu, di bantai secara membabi buta. Ketika konflik berlarut-larut, umat Islam makin tersudut dan terus menerus di bantai, datanglah bala bantuan dari Laskar Jihad pimpinan Ust Jafar Umar Thalib. Posisi pun berubah, umat Islam bahkan banyak memenangkan peperangan dalam berbagai front yang ada di Ambon dan sekitarnya.

Dalam posisi umat Islam di atas angin, Amien Rais sepulang dari kunjungan ke AS (1999), tiba-tiba membuat pernyataan yang amat mengejutkan, yakni : Mengundang Pasukan asing semacam Pasukan Perdamaian PBB agar masuk ke Ambon. Ide ketua Muhammadiyah ( ketika itu) sungguh aneh. Pulang dari Amerika Serikat mendadak sontak mempunyai pemikiran yang sarat anasir aspirasi di luar Islam. Bisa di bayangkan jika benar-benar pasukan asing didatangkan ke Ambon, bisa jadi sampai hari ini konflik di Ambon akan terus berkobar.

Sikap Amien Rais yang sering kontroversial dalam setiap pernyataannya itu memang sangat menarik perhatian pers juga publik yang membacanya. Tulisan-tulisan Amien Rais yang merinci masalah Tambang di Busang juga Freeport, (1997) di elu-elukan masyarakat khususnya Islam. Dengan angka-angka yang amat gamblang Amien Rais membongkar ketidakadilan kontrak karya di Busang dan Freeport. Amien Rais menyebutkan lokasi tambang emas Freeport kini menjadi kubangan raksasa berupa danau. Seluruh isinya, gunung emas sudah pindah ke Amerika Serikat. Sikap kritis Amien Rais yang pro rakyat dan sebaliknya dengan berani menghantam rezim Soeharto, telah melambungkan nama Amien Rais menjadi pahlawan baru. Saya sendiri sejak awal sangat bersahabat dan bersimpati kepada Amien Rais karena itu ketika Amien Rais semakin melambung namanya karena sikap kritisnya kepada rezim Soeharto, hal ini telah membuat rezim Soeharto berang dan dan merekayasa agar Amien Rais di copot jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI.Habibie pun ikut menekan agar Amien Rais mundur. Di sini, saya membela posisi Amien Rais dan menulis duduk masalahnya secara gamblang di harian KOMPAS, “Amien Rais dan masa depan ICMI” ( KOMPAS 24 Februari 1997). Tetapi bersamaan dengan waktu yang terus berjalan dengan jatuhnya rezim Soeharto, sepak terjang Amien Rais terus bermunculan yang “aneh” buat saya. Karena sikapnya dalam konflik Islam-Kristen di Ambon, ingin mendatangkan pasukan asing , semacam Pasukan Perdamaian PBB itu. Adian Husaini menulis buku berjudul : Amien Rais dan Amerika Serikat, yang sarat kritik pedas. Buku yang amat gamblang membedah penampilan Amien Rais yang justru konsisten “mengabdi” kepada kepentingan asing, hal ini tidak pernah di jawab oleh Amien Rais.

Sikap Amien Rais di hari-hari “musim semi” umat Islam membentuk partai politik Islam pasca lengsernya Presiden Soeharto, sekitar Juni-Juli 1998, kembali pilihan dan sikap Amien Rais menjadi tanda tanya besar buat saya. Ketika itu saya dan tokoh-tokoh Islam lainnya sibuk pula mempersiapkan partai Islam penerus Masyumi yang kemudian menjadi partai Bulan Bintang sekarang. Sususnan pengurus DPP (sementara) sudah sepakat di tentukan melalui rapat-rapat di kediaman Bapak HM Cholil Badawi dan DR. Anwar Haryono SH. Di Ketua umum pun di se pakati akan duduk Yusril Ihza Mahendra. Namun tatkala Amien Rais bertandang kerumah Pak Anwar Haryono, Juli 1998 di tawarkanlah agar Amien Rais mau duduk sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Amien Rais pun dengan mantap menyanggupi tawaran itu, Sdr Yusril pun ( saat itu sedang berada di Banyuwangi Jawa Timur) langsung di telepon dan siap posisinya di gantikan Amien Rais dan Yusril duduk sebagai Sekjen. Adegan mengharukan pun tercipta. Semua yang hadir larut dalam tangis dan saling peluk, di mana Amien Rais pun memeluk dan di peluk Anwar Haryono yang hanya bisa duduk di kursi roda karena mengidap stroke. Semua orang menjadi lega terutama Anwar Haryono yang di kenal sebagai juru bicara Masyumi setelah partai ini di paksa bubar oleh rezim Soekarno pada tahun 1960. Acara di tutup dengan doa bersama untuk kesukesan partai penerus Masyumi itu. Selanjutnya Amien Rais pun pamit segera pulang karena hari itu adalah hari Jumat dan harus segera pulang melaksanakan sholat Jumat di kantor pusat PP Muhammadiyah di Menteng Raya 62 Jakarta.Kejadian yang amat dramatis itu terjadi hanya beberapa jam saja setelah adegan pelukan -pelukan yang mengaharukan di rumah Bapak Anwar Haryono. Amien Rais tiba-tiba muncul di layar televise seusai sholat Jumat di kantor PP Muhammadiyah. Ketika wartawan menanyakan, apakah Pak Amien Rais mantap akan memimpin partai Bulan Bintang, Amien Rais menjawab, “ Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka . Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang ibarat baju akan “kesesakan” jika saya “pakai”, pernyataan ini kini di catat sejarah menjadi pendirian seorang Amien Rais. Ia kemudian memprakarsai berdirinya PAN (Partai Amanat Nasional) bersama-sama Goenawan Mohammad , Albert Hasibuan dll. Platform partai pun di kabarkan di siapkan orang-orang Goenawan Mohammad, walau bos Kelompok Tempo ini tak lama setelah PAN berdiri justru meninggalkan PAN.

Bela Ahmadiyah

kembali ke pernyataan Amien Rais soal Ahmadiyah di awal artikel ini. Seharusnya saya tidak perlu terkejut karena sudah memiliki catatan historis tentang Amien Rais. Komentarnya terhadap FUI (Forum Umat Islam) memang menyakitkan. FUI di tuduh sebagai organisasi siluman. Padahal FUI ini merupakan gabungan lebih dari 50 ormas Islam termasuk Muhammadiyah berada di dalamnya. Saya tahu bahwa Amien Rais tahu persis personel di tubuh FUI yang tak lain adalah justru para sahabatnya sendiri yang pada tahun 2004 lalu justru mendukungnya maju sebagai Capres.

Di tengah keraguan dan track record Amien Rais yang kelabu itu, toh Amien Rais tetap di jagokan seluruh Komponen politik Islam, PKS juga tokoh-tokoh Islam, misalnya KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii (Tokoh ulama Betawi kharismatik yang kini menjadi pimpinan FUI). Walau demikian menjadi gamblang pula, potret Amien Rais yang hari ini bisa tampak sangat melawan Amerika Serikat, namun nanti sore dia sangat membela kepentingan Paman Sam. Kata ungkapan Jawa: “Isuk Dele Sore Tempe” (Pagi masih berupa Kedelai dan sore hari sudah berubah menjadi tempe).

Saya teringat pada sebuah diskusi di Universitas Trisakti awal 1980-an sepulang Amien Rais dan Nurcholis Madjid dari studi di Chicago University. Sikap Nurcholis Madjid yang cenderung ingin mencari selamat itu di sindir Amien Rais dengan menyitir anekdot Kyai, Ular dan Kodok. Cerita Amien Rais di sambut dengan gelak tawa yang meledak. Karena sikap kyai yang sangat plin plan itu di lekatkan ke tubuh Nurcholis Madjid dengan sangat jitu. Kini saya bisa memastikan bahwa sikap kyai seperti itu ternyata juga melekat di tubuh Amien Rais.

Sebagai mubaligh yang hampir setiap hari menghampiri umat dan masyarakat luas di tingkat grass roots, saya kini acapkali di sergap pertanyaan jamaah yang awam “Bagaimana kabar pak Amien Rais? Menurut rakyat awam, kehancuran bangsa Indonesia saat ini mutlak menjadi tanggung jawab Amien Rais. Sikapnya yang jelas-jelas plin plan dan tidak konsisten bahkan membawakan agenda asing (seperti sikapnya mengenai masalah Ahmadiyah) kini terbuka dengan senyata-nyatanya. Kini menjadi pertanyaan besar :

Ada Apa sebenarnya Amien Rais dengan Ahmadiyah?

Sebuah dokumen awal reformasi niscaya bisa membantu kita. Amien Rais saat menjabat sebagai ketua MPR-RI, pada 22 April 2000 pernah menerima kunjungan Kholifah Ahmadiyah Mirza Thahir Ahmad. Kunjungan pemimpin Ahmadiyah ini di atur oleh Dawam Raharjo, dalam kapasitas sebagai salah-satu pimpinan Muhammadiyah. Mirza Thahir sempat berkunjung ke berbagai kota di Jawa dan mengumumkan pencanangan Indonesia (menjadi) Pusat Ahmadiyah di dunia. Di Yogya Mirza juga mengumumkan hendak membuka Perkampungan Islam Internasional degan lahan seluas 500 hektar bekerjasama dengan Sri Sultan Hamengkubuwono. Ketika itu, foto Amien Rais saat menerima kunjungan cicit Mirza Ghulam Ahmad ini di muat hampir seluruh media massa baik cetak dan elektronik. Kunjungan ini pun sempat di protes oleh kelompok Khatamunnubuwwah dari Pakistan yang sengaja mengirimkan 50 orang utusannya ke Indonesia untuk memprotes PP Muhammadiyah yang telah menjalin kerjasama dengan Ahmadiyah/ Mirza Thahir Ahmad. Dari balik cerita ini bisa di duga mengapa Amien Rais begitu membela Ahmadiyah.

Quo Vadis Amien Rais. (Umat Islam Niscaya Tidak akan Mendukungmu Lagi !!!).

Wallahu’alam bissawab.

‘(Sumber : Tabloid Suara Islam, Juni 2008)’

Perihal asle090880
saya adalah seorang yang mempunyai keinginan untuk maju

6 Responses to Amien Rais (Ahmadiyah Punya Hak Hidup)

  1. Marzuqi mengatakan:

    sy sepertinya pernah baca tulisan ini dimana ya

  2. Marzuqi mengatakan:

    infonya menarik banget, terus tulis tentang ahmadiyah mas pasti laris manis

  3. asle090880 mengatakan:

    emang berita kami selalu ambil dari media lain, tapi saya tak lupa dalam menyertakan sumbernya, cuma ciri khas saya ambil berita yang agak basi, kelihatane agak enak kalau berita basi diangkat lagi…….
    jangan lupa terus kunjungi blog saya……………trims salam kenal aja……hi…hi….hiii

  4. super hero mengatakan:

    iblis bisa saja berubah wujud jika cita citanya tidak kesampaian…..asal ada uang…..yuk mariiiiiiii….

  5. jatim global mengatakan:

    Hasil analisis dan artikel di atas perlu di pertanyakan ke benaranya mengingat sosok amin rais orangnya sangat terbuka,sementara itu artikel diatas lebih bernuansa black compain,caracter asignation serta fitnah untuk itu sebaiknya perlu langkah-langkah hukum agar artikel serta kebenaran analis di atas bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya.

  6. purwan mengatakan:

    dasar orang, nggak tahu malu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: