Kepala BIN tak sebut penembakan di Papua sebagai aksi terorisme (?)

Umat Islam saat ini seperti dianak tirikan oleh negeri ini, padahal mayoritas pejabatnya dan aparatur pemerintah bahkan presiden dan menteri-menterinya mengkaku beragama Islam, namun pada kenyataannya terhadap agama Islam mereka acuh tak acuh, bahkan terkesan mereka menyudutkannya.  Disetiap peristiwa atau kejadian teror jika pelakunya beragama islam dan mempunyai ciri-ciri tertentu maka dengan gampangnya mereka para pemegang amanah kekuasaan dari presiden sampai aparat keamanan akan menuduh bahwa pelaku adalah teroris, walaupun tidak jatuh korban, tapi jika pelakunya non islam dan yang menjadi korban adalah umat islam atau aparat negara sendiri, sepertii baru-baru ini seperti di Ambon dan Papua, maka mereka sontak akan mengatakan, “itu hanya kriminal biasa”  padahal ada beberapa warga tewas menjadi korban.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, diletakkan di mana agama para Pemimpin kita ini yang mengaku dirinya masih islam? Kenapa Mereka melecehkan agama mereka sendiri dan membiarkan saudara mereka muslimin ambon dibantai, seolah berita itu ditutup tutupi agar tidak menjadi boomerang, tapi ingatlah wahai para penguasa, amanah kalian akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah swt suatu saat kalian akan memanennya…. dan berikut ini komentar Kepala BIN yang baru tentang kejadian penembakan di Papua.

JAKARTA– Seperti yang diduga, aksi-aksi penembakan berulangkali yang terjadi di Papua tidak disebut sebagai tindakan terror, melainkan kriminal murni. Dari sini tampak jelas sekali bahwa pada dasarnya pemerintah Indonesia, (seperti halnya AS dan negara-negara sekuler lain) telah mendefinisikan dan melekatkan stigma ‘terorisme’ dengan kaum Muslim terutama terhadap kelompok yang mendukung gerakan jihad. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen Marciano Norman mengklaim bahwa penembakan yang terjadi di Papua belakangan murni kriminal biasa. “Kejadian itu murni kejahatan, kriminal itu dimana dia (pelaku) merebut senjata Kapolsek, kemudian menembak. Kita harus tingkatkan kewaspadaan,” kata Marciano di kompleks Istana Negara Jakarta, Selasa (25/10/2011). Penembakan menyebabkan delapan orang tewas beberapa hari terakhir ini termasuk Kapolsek Mulia, AKP Dominggus Awes, di Bandara Mulia, Puncak Jaya, Papua, Senin (24/10), siang. Marciano mengatakan pihaknya sekarang ini sedang bekerja keras mengatasi masalah di Papua sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari. Termasuk, kata dia, masalah di Freeport antara karyawan dan manajemen. Hal tersebut tentu akan sangat bertentanagn sekali jika seandainya penembakan dilakukan oleh kelompok pro jihad, seperti yang terjadi di Bima beberapa lalu. Maka aparat tanpa menunggu waktu lama langsung mengklaim aksi tersebut sebagai aksi ‘terorisme’, bahkan sampai melakukan fitnah dengan menanam bom pipa untuk menjebak pihak pesantren Umar Bin Khattab (UBK) seperti dalam rilis Ponpes UBK yang dikirim ke redaksi Arrahmah.com. Bahkan pembakaran ATM di Bandung dan Jogjakarta sebagai bentuk penolakan dan protes terhadap pemerintahan kapitalisme Indonesia (Seperti yang tertuang dalam selebaran-selebaran milik pelaku) beberapa lalu, yang pada dasarnya juga termasuk kegiatan terror, tetap tak disebut terorisme lantara pelakunya adalah kelompok punk anarko. Tampak jelas sudah, bahwa bangsa yang mengaku penduduknya mayoritas Muslim ini tidaklah memerangi ‘terorisme’ melainkan melainkan Islam dan kaum Muslim sendiri. Wallohua’lam. (arrahmah/asle090880)

Perihal asle090880
saya adalah seorang yang mempunyai keinginan untuk maju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: